Kamis, 25 Juni 2009

KONDISI LAHAN BASAH DI PANTAI PAGATAN BESAR

Lahan basah pantai pagatan besar dapat dikatakan cukup memprihatinkan karena kondisinya yang sudah berangsur-berangsur memburuk. Lahan basah sudah bekurang fungsinya karena berbagai proses alami dan aktifitas manusia. wilayah pesisir pantai yang rusak tersebut mengakibatkan resapan air laut akan masuk ke lahan pertanian sehingga dikhawatirkan dapat merusaknya pula. Jika air laut meresap ke wilayah pemukiman maka air sumur penduduk akan berubah menjadi asin. Terjadi proses fisika-kimia dan biologi di suatu ekosistem. Yaitu pergerakan air melalui lahan basah ke sungai atau laut karena pembusukan bahan organik, pelepasan unsur-unsur seperti nitrogen, sulfur, dan karbon ke atmosfir, pengambilan unsur hara, sedimen dan bahan organik dari air ke dalam lahan basah serta perkembangan seluruh organisme yang memerlukan lahan basah untuk kehidupannya. Kerusakan lahan basah disana nampak dari kondisi air yang berwarna kecoklatan keruh akibat dari adanya lumpur yang terbawa dari sungai Barito yang menyebabkan air di pesisir pantai tercampur dengan lumpur. Lumpur sendiri merupakan akumulasi dari berbagai macam kotoran dari rumah tangga seperti sampah dan industri serta pabrik yang terkumpul di pantai Pagatan Besar. Lumpur selain berdampak pada kualitas air, juga pada organism yang hidup disana. Sebagaimana kita ketahui hewan-hewan laut seperti ikan memerlukan unsure hara unruk kehidupan, baik itu plankton, oksigen terlarut dan unsur kehidupan lainnya. Untuk tumbuhan sendiri seperti mangrove, tumbuhan endemik pantai tersebut terlihat kurang hidup dengan nyaman karena ketersediaan unsur-unsur hara tadi yang kurang terpenuhi salah satunya akibat adanya lumpur tadi.

Kondisi lain dari penampakan pantai kita sudah dapat memperhatikan begitu berubahnya kondisi lahan akibat pengikisan bibir pantai. Pengikisan tersebut karena gelombang besar yang terus-terusan berlangsung dipantai dimana penahan gelombang tersebut sudah minim diantaranya mangrove yang telah mulai rusak, juga tidak ada batu pemecah gelombang. Kondisi ini sering kita dengar dengan istilah abrasi. Abrasi pantai di pesisir Pagatan Besar tergolong sudah parah karena menurut warga sekitar frekuensi abrasi tiap tahun semakin besar. Sehingga kalau kondisi ini terus berlangsung dikhawatirkan akhirnya akan merembes ke pemukiman dan pertanian milik warga.

Sejauh ini tidak ada tindak lanjut yang begitu signifikan dari pemerintah setempat dalam hal penanganan masalah ini. Namun jika kita ingin mengurangi dampak buruknya dapat dilakukan dengan penanaman bakau (mangrove) di pantai dan ditunjang dengan pembuatan tanggul penahan abrasi yang berfungsi ganda yaitu sebagai penahan abrasi juga untuk penahan ombak dari pantai yang dapat mengganggu penanaman mangrove. Ditakutkan jika tidak ada penahan gelombang tanaman mangrove tidak akan tumbuh karena terdorong oleh kecepatan gelombang. Sehingga kombinasi dua teknik ini diharapkan mampu menangani masalah abrasi ini.
Masalah yang tidak kalah kompleks yaitu tentang salinitas air disana. Salinitas sendiri merupakan jumlah garam yang terkandung dalam satu kilogram air. Dari observasi lapangan yang dilakukan kadar salinitas disana dapat disimpulkan cukup tinggi, terutama lima tahunan ini karena air laut yang asin mendorong air sungai yang semulanya tawar, sehingga berubah menjadi payau karena telah terkontaminasi dengan air laut. Hal ini dapat dibuktikan dengan rasa payau air sumur disana, bahkan beberapa air sumur disana telah berubah warna menjadi agak kekuningan dan rasanya agak kelat.

Beberapa warga memaparkan bahwa air sumur sekarang hanya digunakan untuk mandi, cuci dan kakus (MCK), selebihnya untuk kepentingan makan dan minum mereka harus membeli air bersih. Ini sangat berbeda dengan 5 tahun yang lalu dimana air sumur masih bisa dimanfaatkan untuk makan dan minum. 
Menurut warga frekuensi suplai air bersih dalam satu minggu kira-kira ada 2 kali, sehingga kadang beberapa warga dengan kehidupan ekonomi yang kurang terpakasa memakai air sumur payau tadi untuk di rebĂșs. Sehingga ada beberapa masyarakat yang kekebalan tubuhnya kurang dapat menderita penyakit. Menurut survei kami, penyakit yang biasa di derita yaitu diare, dan penyakit kulit. Diare mungkin disebabkan karena konsumsi air yang tidak sehat dan ditunjang dengan berkembangnya beberapa bakteri seperti E.Coli, Shigella, dan Salmonella. Sedangkan penyakit kulit dapat disebabkan karena intensitas mandi yang mengurang, dan kualitas kebersihan pakaian yang menurun.

0 komentar: